Jumat, 21 September 2012

bokutachi wa mata aeru hazu sa

Serius gua gak ngerti. Apa yah.
Kenapa ya gua mau-maunya kira-kira pada satu dekade setelah gua kelas 4 SD, kejadian tersebut terulang lagi. Dengan pedenya gua mengajukan diri sebagai kepala dari sekelompok orang yang bahkan gua belom kenal mereka semua. Kepala eh bukan sembarang kepala.
Yang namanya kepala itu tempatnya otak buat berpikir, buat menentukan keputusan. Pertanggungjawabannya berat.

Flashback dikit ( ̶s̶e̶b̶e̶n̶e̶r̶n̶y̶a̶ ̶b̶a̶n̶y̶a̶k̶) dari kelas 1 SD gua udah jadi ketua kelas (yaelah SD, paling cuma mimpin doa depan kelas), gak tau kenapa kepilih, apa gara2 gua ̶t̶e̶r̶l̶a̶l̶u̶  aktif jawab pertanyaan guru.

Trus pas SMA gua juga punya komunitas yang berhubungan dengan anime Jepang gitu deh. Dan lagi-lagi gua yang jadi nonformal leader-nya. WHY? Sampai akhirnya komunitas kami diresmikan oleh para dewan guru di sekolah, dan menjadi “Ekstrakurikuler Bahasa Jepang SMA N 2 Depok”.
And guess what? Yess! I’m the founder and Leader of Sushi (Sakura no Shiruetto) a.k.a “Ekstrakurikuler Bahasa Jepang SMA N 2 Depok”. Congrats!! 
Note : saat itu gak ada yg mau jadi ketua, makanya gua “ditumbalin”

Padahal kalau mau diliat dari psikotes yang pernah gua ikutin di tahun yang sama saat terjadinya tsunami Aceh, di hasilnya tertulis “kepemimpinan : Kurang” “paham organisasi : Kurang” What the..? ̶o̶h̶ ̶m̶e̶n̶
Walaupun hasil tes yang lain cukup membanggakan.
Kalau mau ditelusuri riwayat keluarga juga gak mendukung. Gua anak bungsu dan biasanya manja (emang). So biasanya emang gak cocok jadi pemimpin (relatif sih).

Sampai di masa yang sama-sama harus bersiap, gua pun bertemu dengan teman-teman yang “wow” banget. Kami saling cocok, makan bareng, jalan2 bareng, menuntut ilmu bareng. Di genk yang dalam bahasa jepang (aih gaya pake bahasa jepang) disebut “zou” ini, gak ada leader2an, kami bertujuh sama aja. Pertanyaannya : kenapa gua nyaman ya, dengan komunitas tanpa pemimpin?

Perjalanan kepemimpinan (beuh) gua gak berenti sampai di situ. Dan ini pasti gara-gara syahrini, eh syahroni. Menyaksikan ia menangis di depan kami semua, saat perpisahan kelas, membuat gua ingin merasakan hal itu. Dihormati, dirindukan. Ya memang dia bisa dibilang telah berhasil, karena pemimpin yang berhasil adalah “pemimpin yang dapat melahirkan pemimpin2 baru dari hasil kepemimpinannya”. Congrats roni, lu berhasil membuat gua kembali berambisi menjadi KEPALA.

Dan hari itu pun tiba, hari penentuan. Betapa bangganya gua masuk ke “kotak” yang memang gua inginkan.  Bertemu orang-orang yang bahkan gua belom tau siapa mereka, dan gua dengan yakin mengajukkan diri sebagai kepala. Wuuuhuuu. Dan benar, jadilah ̶d̶i̶r̶i̶k̶u̶ gua sebagai ketua dari satu lusin dikali lima tersebut.
Hey ada apa ini? Kenapa gua merasa nyaman disini. Ternyata mereka asik, kreatif dan gauuul (apaansih). Believe it or not, gua menikmati hari-hari gua sebagai ketua.
Gua gak merasa menonjol, karena mereka (terlalu) kreatif, mungkin. Keputusan2 diambil secara musyawarah mufakat (sesuai dengan pancasila sila ke-4). Bahkan inovasi2 yang dibuat oleh beberapa anggota justru membuat kami semakin solid (viva soil!) dan semakin “jitu”.
Beberapa keputusan yang membuat gua harus berkorban lebih, justru tidak menjadikan gua beban. Serius, gua melakukannya dengan senang hati. Apa ini yang disebut “pemimpin sebagai pelayan rakyatnya” atau karena emang gua terlalu cinta ama mereka. 

Gua tau gua gak sempurna, dan pasti banyak juga dari mereka yang sering kecewa dengan sikap atau keputusan yang gua ambil. Gomen, minna-san.

Terimakasih untuk segala kenangan. Untuk segala suka duka.


***
Ternyata IQ 137 dengan kemampuan nalar 155 pun gak menjajikan seseorang bisa tahan dengan segala tekanan. Beberapa tekanan eksternal membuat gua bersikap lebih introvert. Tapi gua gak boleh kalah, ini hanyalah fase.

Senin, 17 Mei 2010

Inventarisasi Cinta…
Sebuah perjalanan untuk mengukur kondisi hati dari aspek ‘yang sulit diterjemahkan’…

Ada apa dengan visual…??
Kualitas visual tapak (tapak=hati) yang terus saja tertuju pada satu emphasis,, walaupun masih banyak ‘good view’ lain disekitarnya…
Ukuran tapak yang terasa menyempit dan meluas,, (degdeg,, degdeg,, deg,, deg,, deg…) *batas tapak menjadi tidak jelas*

dengan bentuk tapak seperti setengah lingkaran… Ah Tidak!!... Bentuknya memang seperti setengah lingkaran, tetapi menggembungnya agak ke sebelah utara… menjadi seperti lambang ‘NIKE’ diputar 90°… setelah itu dicerminkan,, sehingga mendapatkan bentuk simetris antara kanan dan kirinya…
bisakah kalian membayangkannya..??!!
(tanpa adanya data sekunder dan masterplan tapak)

Dan apabila berada di bukit tertinggi,, terlihat komposisi perspektif eksotik struktur2 yang merefleksikan kokohnya tekad untuk mengejar mimpi… ~~~ diselingi aliran sungai tenang namun tidak terbendung…

Vegetasi berupa hamparan ‘flower bed’ dengan aneka warna,, seperti merah, putih, merah lagi, putih lagi, merah, pink, merah jambu, putih lagi, pink, merah jambu lagi, merah muda, pink, merah jambu, merah muda, merah jambu, pink, pink, pink, merah muda….!!! …aaaaaarrgghh… STOP PLIIS!!
Sungguh suatu tapak dengan ‘land cover’ berkualitas tinggi…


Ada apa dengan audio…??
Suara kicauan air,, gemuruh burung pipit,, desiran anjing hutan,, ketukan angin barat daya,, nyanyian kupu-kupu,,
Ada pula auman si raja udang,, tarian daun bambu,, suara hentakan kaki barisan kakiseribu..
bahkan raungan Thuja orientalis terkadang hingar bingar!!!

Sebuah simfoni alam,, dengan ritme imajiner tercipta dan mungkin hanya bisa dimengerti oleh maestro2 dunia… entahlah…
Dan yang paling terdengar adalah genderang hati yang semakin bergemuruh…


Ada apa dengan rabaan…??
Setiap kali mencoba meraba tekstur pijakan selalu terasa halus.. entah kemana tangan ini meraba…
Seperti halusnya kulit bidadari yang tak pernah tersentuh oleh aura jahat maksiat… dengan perawatan kulit rutin seminggu dua kali,, lulur ratusan ribu…

Material pilihan dengan kualitas tinggi dan tidak mudah rusak,, hanya saja terasa lebih empuk sehingga ingin selalu bersantai membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya…

Tekstur tanah, dengan kontur berfluktuatif,, menggambarkan kemiringan lereng hati yang kian terkikis…
Terkikis oleh derasnya aliran air permukaan dari bawah ke atas,, yang jika dipikirkan tidak akan masuk akal dengan teori hidrologi umum…

Dan ketika meraba tanah….~~~ …… Tanah apa ini..??!!
..................
ini bukan andosol..!!
..................
Bukan juga latosol..!!.........
.................
Ini… hmmm….
...............
ini…!!!?
........................
ini ‘AsmarasoL’…?*!!!*><
*(asmarasol= tanah yang terbentuk dari endapan perasaan)…


Ada apa dengan aroma…??
Aroma seolah kasturi yang kian mengitari… berasal dari lembah di balik bukit yang menyimpan mata air warna merah muda… sangat harum…
dipadukan dengan kondisi suhu yang terkadang meningkat hingga 100°F.. akan tetapi bisa turun lagi sampai 53°F,, curah hujan 973mm/bulan,, kelembaban 83%,, kecepatan angin 7,3 km/jam,, lama penyinaran 65%... tapak ini ‘hot’…?!!
sehingga menjadikan aroma kasturi sangat pekat…
apa yang terjadi dengan keanehan mikroklimat ini..??!!
terkadang juga tercium aromaterapi yang terus menuntun ke suatu tujuan,, namun tak berujung…


Ada apa dengan lisan…??
Saking banyaknya kata yang harus diucap... hingga lisan tidak dapat berkata lagi…

Apa yang sebenarnya terjadi pada tapak ini..?? mungkin harus bertanya kepada DIA… karena hanya DIA yang mengerti…
Sang konsultan hati… Allah SWT.